Jangan Ragu ke Ragunan!

IMG_20181113_134450.jpg
Dari kandang burung onta, kami menuju pusat primata. It’s rhyme!

Sehari setelah Hari Ayah Internasional kemarin, akhirnya aku baru bisa nepatin janji ke Abang buat main ke salah satu kebun binatang terbesar di Ragunan. Sengaja ngambil cuti satu hari, mumpung bisa. Dan kemarin aku baru tau kalo nama resminya itu bukan Kebun Binatang Ragunan, tapi Taman Margasatwa Ragunan (selanjutnya kutulis Ragunan saja).

Berangkat dari rumah jam 9, sampai di Ragunan sekitar jam setengah 11. Dari rumah naik motor, parkir di deket halte Puri Beta. Dari situ kami naik Transjakarta koridor 13, turun di Patra Kuningan, oper koridor 6 tujuan Ragunan. TIGA RIBU LIMA RATUS DOANG BOSQU. Per orang. Abang belum bayar, belum cukup umur, duduknya pun dipangku. Murah, ber-ac, dan anti macet macet qlub. Sepanjang jalan ngobrolin ini sama Bubu, ngebayangin kalo pake kendaraan pribadi kena macet, capek nyetir, beli bensin, ntar bayar parkir pula.

Sengaja pilih ke sana di hari kerja biar nggak keramean, dan bener Ragunan jauh kalah rame sama linimasa media sosial di jam kerja. Tiket masuknya murah, cuma 4 ribu, tapi yang bikin agak males kami disuruh beli kartu Jakcard keluaran salah satu bank daerah di Jakarta yang harga kartunya doang 15 ribu. Mau demo tapi nggak nyiapin spanduk, yaudah kami nurut aja sama pengelola Ragunan. Buat temen2-temen yang baca tulisan ini dan pengen main ke Ragunan, kartu kami boleh dipinjem, lumayan hemat 15 ribu bisa buat beli es teler di kantin Ragunan.

AlhamduliLlaah kemaren dikasih cuaca yang enak buat jalan-jalan di Ragunan, sempet hujan sebentar, setelah itu mendung, jadi adem-adem syahdu gitu. Hewan pertama yang diliat Abang di sana rusa tutul. Doi nggak terlalu semangat, soalnya udah pernah ketemu dan ngasih makan rusa di Istana Bogor. “Mbeeeek”, kata dia, inget kambingnya Mak Jum yang tiap hari dia liat. “Iya, Bang, mirip kambing, tapi ini rusa, tanduknya beda”, kata Bubu. Di depan kandang rusa, Abang baru semangat, akhirnya doi bisa liat gajah dalam ukuran sebenarnya. Selama ini di rumah dia cuma main sama boneka gajah suvenir dari WWF (bukan penyelenggara smackdown). Beberapa kali nyoba wefie kurang berhasil, gajahnya pamer pantat mulu. Abis liat gajah, Abang udah nyebut onyet beberapa kali, tapi kami bilang ke Abang kalo kandangnya jauh, kita urutin dulu liat yang deket.

Dari kandang gajah kita liat berang-berang ekspatriat (beaver), hewan pengerat yang ahli membuat bendungan. Kenapa aku sebut ekspatriat, karena ternyata berang-berang pribumi (otter) beda banget sama yang ekspatriat. Yang satu pengerat yang lain karnivor, satunya jago bikin bendungan satu lagi bahkan tau bendungan aja nggak. Setelah itu kita liat hewan yang sering jadi tebakan garing orang-orang. “Burung, burung apa yang onta?” “burung onta!”. Ntah kenapa Abang nggak mau deket-deket sama kandangnya, langsung ngacir.

Dari kandang burung onta, kami menuju pusat primata. Hey, it’s rhyme!

Masuk ke pusat primata dikenakan biaya 6 ribu per orang. Masuk ke area tersebut disambut oleh patung gorilla yang cukup besar di tangga. Abang kira itu hewan beneran, jadi sempet nggak mau naik. Pas udah tau kalo itu cuma patung, baru doi mau mendekat. Abis liat patung gorilla, baru kami bisa liat gorilla aslinya. Ditaruh di area paling depan, gorilla menyambut kedatangan para tamu. Satu yang paling besar, Kumbo namanya, lagi duduk sambil makan siang. Dipanggil-panggil nggak noleh, dasar gorilla. Di pusat primata itu kita ngeliat gorilla, owa, dan monyet. Sebenernya ada bekantan, siamang, dan beberapa jenis primata lain, tapi kemaren nggak keliatan mungkin lagi bobo siang. Sebelum keluar, kami ngelewatin tempat gorilla dari bawah (pintu masuk pusat primata di atas, kami liat Kumbo dari atas kandangnya) dan bisa liat Komu (adiknya Kumbo) dari deket. Doi goler-goler di deket sungai, mungkin kekenyangan abis makan siang. Abang sempet foto-foto pake background Komu yang lagi males-malesan sambil mainin kakinya. Pas kami ngelewatin Komu, kami baru sadar ternyata ketek gorilla itu BAU BANGET! Buru-buru kami lari demi menyelamatkan hidung kami. Baru kali ini kami mencium bau ketek yang bau banget, jauh lebih mengerikan dari bau ketek orang-orang yang belum terpapar penemuan mutakhir bernama deodoran.

Dari pusat primata kami beranjak ke kandang harimau. Selama jalan-jalan muterin Ragunan tadi Abang nyebut singa beberapa kali karena liat “kereta” bermotif loreng yang lalu-lalang. Kami koreksi kalo itu harimau bukan singa, tapi ya dia tetep nyebut singa aja gitu. Harimau-nya lagi tidur siang di bawah kursi panjang, sekalian neduh kayaknya karena abis gerimis. Di sebelah kandang harimau ada kandang singa. Akhirnya Abang bisa liat singa secara langsung meskipun dari jauh, doi langsung bilang “haum”. Kemarin sih nggak keliatan singa jantan, hanya ada 2 singa betina, karena sepengetahuan kami singa jantan itu bersurai, dan yang ada di kandang kemaren nggak bersurai. Tapi nggak tau lagi kalo si singa jantan sudah mengalami kebotakan.

Terakhir kami sempet mampir ke kandang burung sebelum pulang. Beberapa burung yang kami liat ada burung merak, elang, gagak, dan kakaktua. Kandang burung ini dibikin berderet, hanya disekat per jenis burung. Sempet nawarin Bubu buat mampir ke kandang reptil, auto reject, hahahaha. Sebelum pintu keluar ternyata kami masih sempet liat deretan burung pelikan mejeng. Sepertinya mereka sengaja ditempatkan di lokasi tersebut untuk mengucapkan “sampai jumpa lagi” kepada para pengunjung Ragunan. Akhirul kalam, Ragunan adalah salah satu tempat wisata edukasi yang murah dan nyaman untuk dikunjungi bersama keluarga.

6 thoughts on “Jangan Ragu ke Ragunan!

  1. 1. Blog ini sudah mulai kehilangan ciri khasnya. Kalo gak salah dulu tidak ada namanya pemakaian huruf kapital di awal kalimat. Semuanya huruf kecil. Tapi gakpapalah. Sudah mau menulis saja sudah bagus
    2. Ini bukan postingan blog. INI KOMEDI. Karena gw bacanya sambil mesam mesem di krl. Rupanya stress jadi protokoler bisa membuat seseorang jadi comic

    Like

  2. For some reason I have a memory that the primate center has partial glass floor with water flowing underneath and snakes. But it could’ve been my imagination hahaha I went there circa 2004.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s