FETA Scholarship 101 Updated

images (6).jpeg
Tips dan triknya udah banyak, bisa temen-temen googling di Yahoo.

Bersambung dari tulisan sebelumnya, sekarang aku mau cerita tentang proses seleksi tahap dua. As I said before, I had to do a psychotest and an interview for this phase. Dua tes ini dibagi dalam dua hari yang berurutan.

Hari pertama, aku dan peserta lain ngerjain psikotes bareng-bareng di satu lokasi, di Pusdiklat BC yang ada di Rawamangun. Letaknya sedikit di belakang Kantor Pusat DJBC. Kalo nggak salah inget, jadwal ujian di undangan mulai jam delapan pagi sampai jam dua siang. Tapi kenyataannya aku baru bisa pulang setelah lewat jam sholat ashar.

Urutan tesnya aku nggak inget persis, tapi sama seperti psikotes pada umumnya. Tips dan triknya udah banyak, bisa temen-temen googling di Yahoo. Yang perlu disiapkan adalah kondisi fisik dan mental yang baik. Karena seperti yang kita tahu, psikotes ini bukan buat menguji tingkat intelejensia kita tapi kondisi psikologis kita. Dan aku dapet cerita dari temen, keberhasilan kita lulus dari psikotes itu tergantung dari kebutuhan penyelenggara, jadi bisa aja berubah tiap tahun.

Di hari pertama ini, selain psikotes, kami diminta untuk membuat esai di tempat. Esainya terkait dengan calon kampus kita. Negara mana, jurusan apa, alasan kami milih itu apa, dan beberapa pertanyaan berkisar topik itu. Dan satu pertanyaan ultimate yang hampir selalu muncul di setiap proses seleksi, yaitu apa yang akan kami capai dalam sepuluh tahun ke depan. Mau kujawab, “hanya Alloh yang tahu masa depan saya”, but I didn’t want to jeopardize my chance to get the scholarship with that kind of answer even that answer is technically correct. Hehehe.

Hari selanjutnya, peserta seleksi beasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk diwawancara oleh tim panelis yang terdiri dari tiga pejabat Eselon II di lingkungan Kemenkeu (historically speaking). Aku dapet lokasi di Kantor Pusat DJPb. Seperti hari sebelumnya, kalo nggak salah inget, aku jadi yang pertama dateng ke lokasi ujian. Beberapa saat kemudian temen-temen yang lain mulai dateng, sampai kami komplit bertujuh nunggu bareng datengnya para penguji. It turned out, we had a chance to be interviewed directly by Head of Financial Education and Training Agency, Pak Rionald Silaban. Deg-degannya langsung nambah karena kami akan diwawancara langsung sama Eselon I. Selain Pak Rio, hari itu kami diwawancarai oleh Pak Saiful Islam (Dir. SITP, DJPb) dan Bu Dini Kusumawati (Karo Ortala, Setjen).

Materi wawancara masih berkutat dengan topik esai yang udah kita buat hari sebelumnya, yaitu kampus tujuan dan seluk-beluknya. Dari situ aku baru ngeh, beliau-beliau sebagai pimpinan di Kemenkeu butuh diyakinkan kalo kami memang orang yang tepat untuk menjadi calon penerima beasiswa yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Nah, sebelum meyakinkan orang lain, akan jauh lebih baik kalo kita bisa meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu. Kita bisa mulai riset sederhana soal kampus dan jurusan tujuan kita. Peringkat berapa di dunia, matkulnya apa aja, siapa guru besarnya, siapa aja alumninya, dan se-spesial apa kampus atau jurusan tujuan kita. Pertanyaan-pertanyaan itu bisa kita dapet jawabannya dari website resmi kampus dan bisa kita tanyain ke temen-temen yang lagi ada di sana. Kalo belum punya, ya mulailah buat cari kenalan dari sekarang. Urutannya bisa kayak gini, cari orang yang pernah kuliah di negara tujuan kita, lalu kampus, terakhir jurusan. Kelihatannya panjang dan berjenjang tapi sisi baiknya kita bisa nemu sudut pandang lain buat jadi dasar pertimbangan menentukan pilihan akhir kita. Perkenalkan diri dengan baik dan sopan terlebih dulu baru sampaikan maksud dan tujuan kita menghubungi mereka. Based on my experiences, they have always been more than happy to answer all of my questions, even if it hasn’t related to academic things. Sedikit banyak kita perlu tahu kondisi calon kota tempat tinggal kita, untuk mempersiapkan cara-cara yang paling sesuai buat kita beradaptasi sama lingkungan yang hampir pasti berbeda sama lingkungan kita sekarang.

Kalo persiapan udah cukup mateng, tinggal gas pol rem blong aja. Nggak perlu terlalu menekan rasa gelisah kita karena itu hal yang wajar, tapi jangan berlebihan juga. Jangan lupa buat minta doa restu keluarga.

Empat puluh lima menit tepat, proses wawancara selesai. Aku bersalaman dengan beliau-beliau dan mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang udah diberikan. Keluar dari ruang wawancara, hanya perasaan lega dan puas atas jawaban-jawabanku. Ada satu pertanyaan dari salah satu panelis dan beliau memberi opsi untuk kujawab dalam Bahasa Inggris. I only did that in a sentence or two and I turned it back to Indonesian because I didn’t have the vocabulary. At least, I have tried my best. Dan alhamduliLlaah, 29 Mei 2019 aku bisa menemukan namaku di daftar calon penerima beasiswa FETA Batch 5. Kenapa masih calon? Karena keputusan akhir untuk jadi penerima beasiswa luar negeri dan pertautan adalah jika kami berhasil melewati syarat nilai minimal ujian Bahasa Inggris, baik itu IELTS atau TOEFL iBT, setelah Diklat Teknis Bahasa Asing dilaksanakan.

Featured image pinjem dari sini.

One thought on “FETA Scholarship 101 Updated

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s