Lima yang Pertama

20200215_172640.jpg
Dijalani sesantai-santainya, disyukuri sebanyak-banyaknya.

Beberapa hari lalu kami ngobrolin ini dan sepakat kalo lima tahun ini rasanya seperti baru kemaren. Masih inget deg-degan sebelum akad di Masjid An-Nur Pekanbaru, jadi setelahnya bisa nulis nama istri di daftar terima kasih di skripsi. Dari boncengan naik vespa berdua meluknya kenceng banget sekarang udah ada bocah nyempil di tengah. Dan, dari kalo mau pulang masih nanya mau dibeliin apa sampai udah apal kapan waktunya pesen mi tumis ke Bang Jay atau mampir ke warung pempek deket Puri Beta.

We’ve passed ups and downs, we’ve laughed and cried (actually she’s cried and I’ve hugged her) at anything, we’ve learnt everything that we could, together.

Sebagai penanda, aku akan berbagi cerita yang nggak sepenuhnya baru aku bagikan pertama kali di sini. Beberapa kali kusampaikan secara lisan pada teman-teman, baik yang dekat maupun yang nggak terlalu. Jeje pun pernah menceritakannya di salah satu postingannya di Instagram.

Menikah di umur 25 tahun 10 bulan bukan hal yang aku bayangkan, dulu. Bahkan waktu aku masih di madrasah ibtidaiyah, aku sempat berfikir kalau kiamat akan datang sebelum aku merasakan kehidupan di sekolah menengah atas. Pelajaran agama di sekolah tentang tanda-tanda kiamat membuatku, waktu itu, beranggapan kalau nggak lama lagi kiamat akan datang. Masih jelas terbayang, ada satu orang teman yang histeris di kelas pas kita lagi belajar IPS bareng Bu Ainun di tanggal 9 September 1999. Yang aku nggak tau waktu itu, (calon) istriku ada di kelas lain di gedung sekolah yang sama, ntah belajar matematika atau lagi ngobrolin mau beli happy meal sepulang sekolah dan sibuk mempertimbangkan mau milih mainan yang mana.

Ketika akhirnya kami memutuskan untuk menikah, beberapa teman dekat nggak bisa menyembunyikan kekagetannya, tapi pada dasarnya aku nggak terlalu suka membuat target waktu, tentang apapun termasuk menikah.

Kami menikah di hari sabtu, dimana rabu atau kamis sebelumnya, aku masih harus berkutat dengan ujian di kampus. Sebelumnya aku sudah tahu Bapak dulu menikahi Mama di kondisi yang hampir sama, bedanya dulu Bapak lagi kuliah pascasarjana. Sedikit mirip, waktu kunikahi, Jeje baru menyelesaikan studi pascasarjana-nya dan tinggal nunggu wisuda.

Kami berkenalan dari grup “MIN Malang 1 lulusan 2001 :)” di Facebook di medio 2013, praktis kami kenal sekitar satu setengah tahun sebelum akhirnya kami menikah. Rata-rata pada nanya, “kok bisa se-SD tapi nggak kenal?”, dan pas aku bilang kalo di MIN ada 6 kelas bersambung ke pernyataan, “wih, banyak banget kelasnya.” Maklum, salah satu madrasah ibtidaiyah terbaik dari dua madrasah ibtidaiyah yang ada se-Malang Raya, waktu itu.

Selain kesamaan sekolah, ternyata kami tinggal di komplek yang sama, cuma beda RT. Jeje tinggal bareng Eyang di RT 6, aku di RT 4. Kami ngaji bareng di masjid yang sama, hampir setiap sore. Kami juga punya temen main yang beririsan. Tapi kami nggak pernah menyadari keberadaan satu sama lain. Sepertinya nggak mungkin, tapi begitu adanya. Sebuah bukti nyata dari pepatah lama “jodoh datang dari sudut yang tidak disangka-sangka.” We do believe there is a reason why we hadn’t known each other before and why we met at that exact time so we’ve agreed to walk together since then.

Justru Mama yang langsung ingat sama Jeje, di saat Jeje sendiri lupa sama Mama, guru ngajinya belasan tahun yang lalu. Mama ingat kalo Jeje pernah membawakan oleh-oleh dari Ladongi, tempat tinggal Jeje dari lahir sampai usia sekolah dasar kelas satu, sebelum pindah ke Malang. Saat itu, Papa Mama Jeje (selanjutnya kupanggil Pap dan Mam) masih tinggal di sana, tempat mereka bekerja di perkebunan kakao. Mama langsung ingat kalo Jeje cucunya Eyang, yang dulu ngaji bareng Mama. Mama juga ikut memandikan Eyang waktu Eyang meninggal. Waktu para Bude dan Tante ketemu Mama pada kaget, “lho Bu Cip ngapain di sini”, karena nggak nyangka kalo calon besannya Mam ini Mama. Dan setelah kami menikah, Mama cerita kalo Eyang pernah berpesan seperti ini, “Bu Cip, titip cucu kulo sampe gede nggeh.” Voila, pesan Eyang pun kejadian.

Jadi cerita selama lima tahun barengannya mana? Ntar aja kalo ketemu langsung, kita saling berbagi cerita. Nggak harus sempurna, sekadar bisa jadi bekal yang cukup buat menjalani lima-tahun lima-tahun berikutnya. Dijalani sesantai-santainya, disyukuri sebanyak-banyaknya. Kalo kata Om Robert, “don’t worry about a thing, ’cause every little thing is gonna be alright.

Makasih buat semuanya, maaf juga buat semuanya. Peluk peluk cium cium. Aku sayang kamu, Sayang.